Saturday, September 10, 2011

The Giant Leap

Prelude:

"Saya mencapai titik di mana banyak orang menganggap tidak mungkin pada usia saya (...). Saya mencapai setinggi Bulan, tapi siapa saja yang benar-benar mencoba, bisa mencapai di atas galaksi Bima Sakti." -Moshe Kai Cavalin

Ane sempet posting ini di Kaskus dalam bagian thread [AMAZING] 100 Tahun Balapan Terhebat di Dunia! sampai akhirnya... :o



Ikut share pengalaman ane yah... Siapa tau ada yang butuh inspirasi... Kalo enggak, segera skip

Sebenarnya ane pengen ceritain ini setidaknya di acara ulang tahun ZF1 yang pertama.

Berhubung ada seorang teman yang sedang menyusun skripsi dan membutuhkan sedikit bantuan ane, maka dengan senang hati ane akan ceritakan bagaimana sejarah ini tercipta.

Jadi curcol :mahos

Ane sendiri baru pertama kali menonton F1 GP Malaysia 1999 di TV. Ane baru mulai terjun sepenuh hati di tahun 2001, dimana saat SD ane kesambet hobi gambar-gambar mobil F1 dan sempat ane jual ke temen-temen

Waktu ituh ane juga inget... Kita-kita sempet ngadain semacam kejuaraan balap di atas meja sekolahan... Dengan mobil-mobilan F1 palsu seharga 700 perak.

Salahsatu sumber informasi F1 yang membuat ane semangat mengikuti F1 adalah majalah F1 Junior, yang kini sudah tewas

Dari sanalah ane mengetahui berbagai Racing 101, seperti racing line sampai fungsi tombol 'N'.

Sejarah berdirinya ZF1 bisa ditelusuri sejak tahun 2008. Saat itu ane sedang kecantol ma game F1 Challenge '99-'02 (F1C) untuk PC, meski ane beli tuh game taun 2003 dari BEC Bandung. Maklum, setau ane di kampung ane Tasik masih sangat jarang yang jualan game PC. Bagi yang belom tau, F1C memiliki berbagai macam modifikasi yang tersedia di internet sehingga bukan tidak mungkin juragan bisa maenin F1 musim 1950-sekarang.

Berhubung di rumah ga ada internet karena sebelumnya tagihan Telkampretnet Instan membengkak, ane sering bulak-balik warnet. Ane bersyukur tidak keracunan maen game online di warnet. Yang bikin ane ngeri, warnet deket lingkungan sekolah ane dulu pake billing manual...

Pake Excel

Masalah klasik, banyak orang bilang senang balapan tapi mereka tidak punya teman seperjuangan di lingkungan mereka.

Internet berhasil membuat semuanya terasa dekat, dan berdekatan :mahos. Ane sering maen ke warnet untuk sekedar nongkrong di forum racesimulations.net sambil mengdonglot berbagai hal tentang F1C, dimana ane juga "bertemu" secara tidak sengaja dengan seorang personil band Supernova sekarang, Galih Wawa :mahos. Selain itu, ane juga ingin ngobrol tentang balapan F1 betulan lah bersama beberapa orang dari NKRI hingga ane menemukan sebuah subforum F1 di Delik Forum...

Yah, pertama kali jujur ajah ane kurang lebih senang lah bisa nemu tempat ngobrol F1 dari negeri sendiri. Penyakit nubitol dadakan tidak bisa ane hindari. Ane beberapa kali bikin thread gila di sana dan bikin gempar warga... wkwkwwk... Ampun...



*Credits: om Ryan... :mahos

Di sana ane sempet pula posting thread dengan topik "Game Simulasi F1 Terbaik" dan ane kembali "bertemu" dengan om Wawa. Ane masih mentok di F1C dan ternyata lumayan banyak pula maniak F1C yang nongol di Delik. Saat itu, ane mulai bercita-cita membuat sebuah situs/blog tentang balapan simulasi.

Takdir berkata lain, ane kemudian disibukkan dengan sekolah dan seleksi pertukaran pelajar AFS-YES. Bisa dibilang, ane paling ga suka dengan sistem sekolahan NKRI. Yah, kata beberapa orang ane kebanyakan protes padahal kita semua memang tau sudah banyak yang salah tapi seakan terbiarkan. Sebagian dari mereka berkata...

"Kalo bisa, bikin ajah sekolah sendiri."

I took their challenge and never looked back.

Hari demi hari, ane semakin sering ga masuk sekolah. Terserah orang bilang mau bilang ane lari dari kenyataan, yang pasti ane ga mau tinggal diam hingga tenggelam dalam sebuah status quo. Daripada ane jadi "korban" sistem yang ane anggap salah besar dan buang-buang tenaga, mendingan ane mencari sistem lain yang bisa memberi ane kesempatan untuk bisa lebih mengembangkan diri, khususnya dalam bidang yang ane sukai macam komputer dan well, racing.

All I need is "learning", not some useless education.

Itulah pola pikir ane saat itu. Sistem lain itu, ternyata memang ane temukan kemudian di Amrik...



Sedikit-demi sedikit ane mulai ga puas dengan siaran F1 di GombalTipi. Ane teringat kasus ITV yang memotong aksi duel Michael Schumacher dan Fernando Alonso di balapan GP San Marino 2005 dengan iklan yang datang secara tiba-tiba. Publik Inggris pun marah, kritik bermunculan dimana-mana. Seinget ane, ane udah kirim komplain ke GombalTipi via situsnya GombalTipi tapi ane rasa tidak ada perubahan sama sekali. Dan seinget ane, ane ga inget dapet respon apa-apa. Well, ane harus cari cara lain.

Waktu itu ane pikir GombalTipi seakan-akan tuli dan bisu mendengar kritikan F1 mania di Indonesia. Sebelumnya ane kenal blog f1fanatic milik Keith Collantine yang sempat memuat postingan tentang buruknya siaran F1 dari ESPN Star Sports dan SPEED Channel. Dari situ ane coba kontak dia, dengan harapan bisa mengekspos kualitas siaran GombalTipi ke seluruh dunia. Dia bilang ane boleh saja tulis artikel tentang GombalTipi di f1fanatic, dan ane pun bilang akan ane usahain setelah GP Monako 2008.

Ane merasa masih harus cari cara lain lagi supaya bisa "didengar" oleh GombalTipi. Ane pun memulai grup Facebook dengan judul "Stop Siaran F1 di GombalTipi." Kemudian ane bikin thread baru di Delik Porum dengan judul "Stop Siaran F1 di GombalTipi" dengan berbagai macam respon. Tak lupa, ane juga bikin thread serupa di Kaskus. Well, I love Kaskus

Selidik punya selidik, saat itu situs delikSeprot suka menampilkan thread dengan reply terbaru di halamannya, dan thread ane tentang GombalTipi sering nongol.

More publicity = job well done.

Lucunya, saat ane posting thread tersebut di Delik Porum, ane memakai ID saudara jauh ane.

Facebook, Kaskus, dan Delik Porum. Semuanya ngemengin tentang GombalTipi.

Sampai akhirnya, e-mail dari Hilbram Dunar pun datang ke saudara jauh ane itu...

Pfff... Ane jujur ajah sempat terharu juga karena ampe harus segininya untuk dapat didengarkan oleh pihak GombalTipi, dan ane yakin bukan ane saja yang ingin didengarkan.

Ane kemudian join ke grup FB dengan nama "F1 MANIA INDONESIA" (huruf kapital semua). Saat itu, Kenan Flyingken selaku sesepuh sempat memasang discussion thread dengan isi mencari admin. Ane kirim ajah message lamaran kerja ke om Kenan dan wkwkwkwwk... Ia langsung ajah melantik ane menjadi admin. Tengs yah, om. Di sanalah ane banyak menemukan teman-teman baru :')

Ternyata dan ternyata... Ane masih harus berjuang di kampung ane sendiri. "Melawan" sekolah, dan berusaha bertahan dalam seleksi AFS-YES. Ane terkadang merenung, apakah yang ane lakukan adalah memang sepenuhnya benar? Saat-saat itu, ane akui ane sering meneteskan airmata sendiri sambil mencoba melihat refleksi ane ke belakang. Apa yang ane percayai sehingga ane bisa berbuat sejauh ini?

Indonesia masih "membara" mengkritik GombalTipi, sementara ane terpaksa menangguhkan tulisan ane untuk Keith.

Yah, sekolah memang sempat membuat ane kehilangan kesabaran juga. Pada saat ujian semester II menjelang naik ke kelas 3 MAN, ane ga ikut ujian dua hari terakhir.

Ane boikot.

Ceritanya, ane biasa ajah pada awalnya mengikuti ujian. Sampai pada suatu ketika, ane melihat salahseorang murid memakai contekan yang disembunyikan di kolong bangku. Sang pengawas masih santai-santai saja, jadi ane pun merasa harus bertindak. Ane pun ngemeng kayak gini:

"Bukunya harap disimpan, jangan disembunyikan di kolong bangku."

Suasana sempat hening beberapa saat, sampai kemudian terdengar suara entah dari arah mana...

"Ah, kayak yang ga pernah nyontek ajah."

Hmmm... Ane pun berdiri, dengan sedikit amarah...

"APAKAH KALIAN HANYA MAU MENDENGAR PERKATAAN DARI MALAIKAT???"

Karena memang ane udah selesai mengerjakan soal ujian ane, ane pun meninggalkan kelas.

Hasilnya, ane ga ikut ujian 2 hari selanjutnya. Ane ga ikut ujian susulan, dan ane ga ngerjain tugas sebagai pengganti "kemalasan" ane. Ane boikot.

Sekali lagi.

Daripada sulit mengubah mereka, lebih baik ane cari cara untuk mengembangkan diri ane sendiri dalam bidang yang ane cita-citakan, dibantu dengan tempat dan posisi yang tepat.

Ya, ane semakin dekat dengan sistem baru itu.

Sebelum ane boikot sekolah, ane sudah lolos seleksi nasional AFS-YES.

Semuanya memang bagian dari sejarah.

Ane rasa orangtua ane pun merasa prihatin dengan keadaan ane saat itu. Kami menemui kepala sekolah dan menceritakan semuanya.

Waktu ane pun semakin sedikit... Ane harus meninggalkan semuanya... Keluarga, teman-teman, and perhaps... those loyal haters... Meski hanya untuk sementara...

Ane hanya sempet ngalamin kelas 3 MAN selama 2 hari. Saat-saat yang penuh airmata.

Tanggal 8 Agustus 2009, ane bertolak ke Amrik

Terima kasih, F1.

================

ZF1 pun belom ada di kepala ane saat itu

Ane ga sempurna, dan ga ingin sedikit pun mencoba untuk sempurna, walaupun ane terkadang ingin melihat dunia ini sempurna...

Yah, ane memang "malas" sekolah. Ane rasakan semuanya bermula dari seleksi AFS-YES itu.

OK, gan... Berikut ranking ane dari kelas 1 MAN semester I sampai kelas 2 MAN semester II:

3, 13, 23, dan 20.

(padahal yang terakhir ane udah maen boikot ujian masih ajah dimasukkin ranking)

Pertama, ane rada kaget juga lah bisa dapet 3 wong perasaan ane masih saja mengutamakan kompi atau balapan, daripada begadang membaca buku pelajaran.

Nah... Kelas 1 semester II ane mulai ikutan tuh seleksi... Pas lagi belajar di kelas sampai ada seorang guru dengan nada sinis dan antipati yang bilang kayak gini...

===============

"Cep, jangan melamun mulu ke Amrik. Mending di sini ajah yang SUDAH PASTI."

===============

Hening.

Semua mata di kelas langsung menatap ke ane yang sebenarnya sedang duduk dengan manis mencoba memahami tulisan di papan tulis.

Perkataan sang guru seakan langsung menusuk jantung ane.

Api sudah terlanjur membakar.

Cerita lengkapnya dalam Bahasa Linggis di sini: http://goldenboy91.blogspot.com/2008/12/my-survival-in-uncertainty-part-1.html

Mulai saat itu, ane tak segan lagi "berkonfrontasi" dengan sejumlah guru. Ane mulai membuat banyak "masalah" di sekolah.

Terakhir, aneh juga bisa dapat ranking 20 (naik 3 padahal sebelumnya turun 10 dua kali) padahal ane adalah salahseorang yang paling sering "bolos" dan boikot ujian 2 hari. Ane akui, ane udah ga peduli lagi ma sekolah MAN ane. Yah, beberapa guru yang dulunya sering bikin "masalah" ma ane termasuk guru yang diatas ane ceritakan, akhirnya langsung berubah sikapnya secara tiba-tiba semenjak mendengar bahwa ane udah lulus seleksi AFS-YES. Sang guru ituh kemudian bertanya...

===============

"Cep, kapan mau berangkat ke Amrik teh?"

===============

Ane ga merasa menang. Ane menyayangkan sikap mereka yang secara kasar bisa ane bilang munafik. Maaf, tapi memang begitulah perasaan ane sejujurnya waktu itu.

"RESPECT is something that you have to earn but you yell, demand it and give none in return..."

Nampaknya, sekolah pun seakan tidak punya pilihan untuk menaikkan ane ke kelas 3, mungkin karena takut "malu" terhadap pendapat orang.

"Masa siswa yang mau berangkat ke Amrik ga naik kelas di sekolah asalnya?" :mahos

Melihat ke belakang, ane bisa tertawa dan menangis. Mengingat ane begitu "nekad", sampai hidup ane pun ga pernah menjadi seperti dulu lagi.

Di Indonesia, ane anti-school. Di Amrik, ane bisa dibilang school fanboy meski kalau ada hari libur ane tetep jingkrak-jingkrak.

Perlu diingat, anti-school bukan berarti sama dengan anti-learning. Ane ingin orang bisa lebih mengerti bahwa nilai akademik memang bukan segalanya.

Di saat sekolah lain sudah memulai summer break, ane hanya punya Memorial Weekend sebagai hari libur menjelang final exams...

Menjelang keberangkatan ke Amrik, 100 orang termasuk ane menjalani orientasi terlebih dahulu di Jakarta dan kita diberi berbagai macam persiapan, termasuk sebuah kunjungan ke Dubes Amrik.

Salahsatu sesi yang seakan-akan seperti 'omen' adalah menuliskan 3 harapan dan 3 kekhawatiran selama ntar di Amrik. Di saat 99 orang lain menulis harapan seperti ingin banyak teman, ingin dapat sekolah yang bagus, ingin dapat keluarga angkat yang baik, dan kekhawatiran sebagai kebalikan dari harapan, ane menulis tanpa basa-basi:

Harapan:
1. Indianapolis 500
2. PS3
3. Lupa lagi, padahal seingat ane ini penting juga

Kekhawatiran:
1. Amrik kena bencana
2. NKRI kena bencana
3. Lagi-lagi lupa padahal penting juga

Yap, sebelumnya kan ane juga ngisi formulir tentang data diri ane, ane tulis aja kalo ane memang hobi kompi, game, dan pastinya balapan. Ntar kan bakal tinggal ma keluarga angkat, jadi setidaknya mereka bisa lebih memahami dan mengenal ane.

Ane harus banyak bersyukur juga bahwa akhirnya ane tinggal bersama keluarga angkat di Boardman, Ohio. Di sana ane tinggal nyaman baik sebagai geek, maupun gamer. Ane pun ga menutup-nutupi bahwa menonton langsung Indy 500 2010 bisa menjadi pencapaian terbaik ane selama menjadi penggemar balap. Namun ane ga pake gaya mengemis-ngemis lah.

yah...

Ane cuman mau bilang, apapun perbedaan latar belakang kita, tidak bisakah kita hidup damai berdampingan tanpa kebencian? Malam-malam menjelang Natal pun tiba, dan mereka punya tradisi saling memberi kado. Ane nerima bingkisan dari:

Indianapolis Motor Speedway, 4790 W. 16th St., Indianapolis, IN.

Jujur ajah hati ane merasa tersentuh lah, karena ternyata ortu angkat ane memang merencanakan kejutan ini dari jauh-jauh hari.

Sebelumnya mereka tidak terlalu antusias terhadap balap. Kakak angkat ane yang cowo dulunya mantan pemain futbol di NAVY tapi kemudian cedera dan karirnya tamat. Sungguh menarik untuk bertukarpikiran antara balap dengan futbol.

Sabtu pagi, 29 Mei 2010. Hari keberangkatan pun tiba, ane 'terpaksa' membawa kamera Kodak Zi6 yang dipesan secara kilat dari eBay karena Sony HDR-CX110 mengalami masalah pengiriman sementara ane pastinya ga ingin melewatkan setiap momen yang telah ane . Tak tanggung-tanggung, 3 kamera pun dibawa host mom. Ane ma ortu angkat ane naik Acura RDX yang dikemudikan babeh angkat. Ane sungguh mengapresiasi 'kerja keras' ortu angkat ane, dimana saat Memorial Weekend mereka memilih untuk menemani ane pergi ke Indy.

Perjalanan darat dilalui kurang lebih 6 jam. Saat pertama ane melihat gedung-gedung kota Indianapolis, atmosfir kota penuh dengan suasana balap menjelang Indy 500. Mungkin ini bukan Monza, tetapi Indy punya ciri khas tersendiri pula yang sangat kental.

"In Indianapolis... Racing is religion." - Mario Andretti

Tiba di SpringHill Suites, kita semua istirahat dan kemudian berjalan ke downtown, dimana para pembalap akan melakukan parade yang bertajuk "IPL Festival Parade". Kami kira sudah terlambat menyaksikan parade, tetapi ternyata kita hanya ketinggalan menyaksikan beberapa pembalap row belakang. Lumayan lah bisa lihat berbagai macam mobil-mobil termasuk Camaro yang dijadiin Pace Car. Para sopir dengan wajah familiar macam Helio Castroneves dan Will Power pun bisa ane kenali. Ane ga sempet liat Danica Patrick dan Tony Kanaan karena mereka akan start di row belakang. Setelah itu, jalan-jalan keliling downtown. Di sana ane ingin membeli kaos Indy pastinya, tapi rada mikir beberapa kali. Host mom akhirnya membelikan ane sebuah buku berjudul "IMS - 100 Years of Racing" dan official program Indy 500 2010 sebagai hadiah graduation ane. Abis itu balik deh ke kamar hotel.


Parade pace car.

Malamnya, ane balik lagi ke downtown untuk liat title sponsor IndyCar Series yaitu IZOD, mengadakan berbagai acara build-up yang berjudul "Race to The Party". Di perjalanan ane bersimpangan dengan Mario Andretti dan Mark Wahlberg. Sayang ane ga sempet ngomong apa-apa. Tinggi badannya pendek amir dibanding ane.

Di hotel, acara TV serba Indy. ESPN Classic menayangkan rekaman balapan Indy 500 dari tahun 1980an. Sementara ane bersiap menghadapi hari esok.


Ane tidur di kursi.

Setelah sarapan bentar, host dad manggil taksi dengan sopir berlogat Perancis. Tak sampai setengah jam, ane udah bisa melihat speedway dari jauh.


Gerbang IMS.

Seumur hidup ane belum pernah menyaksikan langsung bagian dari sejarah auto racing. Menjelang balapan, ane berkunjung ke Indianapolis Motor Speedway Hall of Fame Museum yang berada di dalam bagian Speedway. Berbagai mobil, trofi, dan berbagai pernak-pernik bersejarah lainnya ada di sana. Favorit ane diantaranya Lotus Type 56 bermesin turbin, Mercedes W196 Streamliner, dan trofi Race of The Two Worlds. Yang lucu, mereka salah mengidentifikasi sasis mobil Benetton om Sumi Dasar petrolhead :mahos


Di depan mobil Jacques Villeneuve
.


Perjalanan menuju seat grandstand tower terrace lumayan jauh dari museum, setidaknya itu bagus karena ane bisa lebih merasakan atmosfir Indy. Mungkin tak seorangpun, tak seorangpun yang mengerti bagaimana perasaan, pikiran, dan emosi ane saat akhirnya naik ke puncak grandstand.

OMG.

Terlepas dari berbagai rintangan yang ane temui di masa lalu, kini ane bisa melihat secara langsung The Greatest Spectacle in Racing...


Sebuah mimpi dan harapan.

Salahsatu pelajaran terbesar yang ane dapat, ane selalu ingat perkataan babeh angkat ane:

====================

"Cep, ente ga usah membalas kebaikan ane. Ente cukup menyebarkan kebaikan itu kepada semua orang."

====================

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...